"Kenapa sih
sekarang cari jodoh sulit banget?" kalimat pembuka dari seorang gadis
early thirty di depan gorengan dalam posko rumpi antar wanita 55, 43, 42, 32,
27 dan 23. Perwakilan generasi yang cukup melalui era yang berbeda dalam kancah
perpolitikan dunia pencarian jodoh.
“Jodoh simpel, gak
perlu nyari, dikasih koq sama Ortu. Minimal dapet sepupu’” jawab si 55.
Pastinya lahir dari zaman Siti Nurbaya.
“Jodoh dimudahkan, ada
rejekinya untuk setiap orang” si 43 yang bunyi
“Iyup banget Teh, gak
usah dikejar-kejar, dateng kok.” Sambil mengunyah dan mencolek sambel kacang
teman gorengan. Ketambunannya tidak menghalangi si 42 untuk mengunyah.
“Tapi iya koq, jodoh
itu sulit. Zaman sekarang mencari Pria yang layak untuk dinikahi itu berat,
lebih berat dari Rindu” persepsi si 32 kurang lebih sama dengan si 27 pencetus
omongan.
“Oh jdi begitu, makanya
Mba lama juga baru nemu jodohnya. Karena mencari yang layak saja susah. Kalo
sekarang saja sulit, terus 5 tahun lagi, bisa-bisa jadi langka dong?” si 23
manggut-manggut memberikan kesimpulannya. Ia tak menyentuh gorengan satu pun di
meja.
“Trus kalo pria-pria
tak layak, tapi masih ada kan Pria layak?” si 42 yang kenes itu bertanya lagi
“Masih ada Mba, tapi
sudah beristri” jawab si 32 “makanya banyak sekarang yang bersedia dipoligami,
gak papalah karena harapan pada yang bujangan itu semacam sia-sia saja.”
Aku, Lemari Pendingin
yang menjadi saksi pembicaraan mereka hanya bisa menyimpulkan
Bahwa
Wanita terlalu banyak takut akan ketidaknyamanan dan lupa bahwa perjuangan
untuk meraih kenyamanan bisa dilakukan. Untuk setiap kejadian memang ada harga
yang harus dibayar. Berenang-renang ke hulu
mungkin lebih baik daripada berakit ke tepian. Pepatah lama itu sudah tak
relevan sekarang, dimana-mana juga enakan naik rakit daripada berenang.
#menulissajatanpatema
#recehperludipikirkan
Komentar
Posting Komentar