Langsung ke konten utama

Ibu Rumah Tangga, Profesi Juga...

malam-malam tiba-tiba thoriif menangis, sepertinya sakit perutt.. dan aduh, rasanya perutku pun ikut melilit.
lalu teringat dengan kalimat seorang manager camp pada saat aq magang dulu
" memangnya bersedia jadi Ibu Rumah Tangga saja?? khan sayang sekolahnya yg tinggi??"
saat itu aku dalam hati hanya tersenyum dan menjawab
" kenapa tidak pak? pasti akan banyak bedanya lho pak, kalo Ibu Rumah Tangganya seorang Sarjana. dan memangnya ada yang salah kalo perempuan sekolah tinggi-tinggi dan berakhir sebagai Ibu Rumah Tangga pendamping suami?
saat itu aku malah balik bertanya, yg padahal dalam hati bilang
' jawaban saya mungkin teori Pak, kalo saya sih dah sekolah tinggi-tinggi kayak gini, dan bakalan jadi Sarjana pastinya mesti kerja dong. Aktualisasi diri lah"

dan sekarang
teryata Ibu Rumah Tangga adalah Profesi diatas profesi
sejak buka mata sampai tidur lagi, profesi itu terus melekat.. bahkan seorang wanita yg bekerja diluar rumah pun, karyawan di kantor (hanya punya status jabatan di kantor) setelah pulang pasti akan jadi Ibu Rumah Tangga lagi (status ganda)

Ibu Rumah Tangga itu perannya full job malah, ya perencana, ya pelaksana, ya pengawas bahkan tim audit
maka seorang Ibu Rumah Tangga bukan hanya diperlukan seorang sarjana.. malah diperlukan seorang professor
hhhmmmm, ada temen yg bilang kalo Ibunya agak Risih dengan dirinya yg hanya Ibu Rumah Tangga saja, padahal dulunya dr SD sampe SMA di sekolah dapat rangking teruss, dan pas kuliah gak pernah punya IPK dibawah 3,00 selain itu aktif di kampus dan termasauk jajaran mahasiswa berprestasi, belum lagi englishnya yg cas cis cus, dan akhirnya setelah menikah full at home alias Ibu Rumah Tangga sejati
dan apa jawabnya atas kerisihan ibunya itu, ternyata cuma satu
"saya punya profesi luar biasa bu.. membentuk karakter Generasi yg beriman, bertakwa dan berpendidikan."
WOW
aku gak pernah kepikiran sampe situ, karena prinsip yg ditanamkan Ibuku padaku cuma satu
" anak adalah anak Ibu"
yah, buat ibuku anak adalah cerminan dirinya, karena kebahagiannya adalah melihat anak-anaknya tumbuh besar, sehat, mandiri dan bahagia
ya itulah tugas seorang Ibu Rumah Tangga yg full job itu dan itu bukan tanggung jawab guru di Sekolah, bukan tanggung jawab tetangga, apalagi tanggungjawab presiden yg tugasnya dah bejibun :)) jadi buat Ibuku dan aku mendidik anak-anak sangat penting, memberikan mereka rasa aman, bahagia

Ibu, adalah pusat dari sebuah keluarga, Ibu yang punya pengetahuan luas tentunya sangat diperlukan, Ibu yang selalu mau belajar, karena Ibu harusnya adalah idola dalam keluarganya.
kenapa Ibu harus mau belajar? karena anak-anak pasti banyak bertanya, baik hal-hal yg kita ketahui atau tidak ketahui, karena itulah ibu mesti rajin membaca dan mencari tahu.
jangan sampai anak mengidolakan orang lain dan bertanya lebih banyak pada mereka, yang akhirnya membuat anak-anak jauh dari Ibunya

wah, sudah malam.. lanjut besok lagi
waktunya cek keadaan Thoriif :)


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Catatan PERJALANAN ...  Infrastruktur dan Bencana benar benar lupa dilupakan melupakan atau sekedar menunda dan menyimpannya untuk sementara.. Mimpiku masih sama.. travelling, melihat keindahan dan kekuasaan penciptaan alam semesta oleh sang Khalik bahkan isi media sosial yg kuikuti adalah foto-foto aku jalan-jalan, hingga komen mereka yg masuk adalah "mba ini kuliah lagi atau jalan-jalan mulu siyyy??? 'hehehehehe... bolehkan sekali dayung 2-3 pulau terlampaui sebenernya tuu ya.. foto2 travelling itu, adalah bagian dari perkuliahan lapangan yg dibuat oleh dosen mata kuliah di kampus, dosen yg tidak mau kami datang ke jogja hanya duduk kuliah, kost dan makan tidur belajar prof yg satu ini, menugaskan kami utk berkeliling jogja, melihat mengamati dan akhirnya menulis infrastruktur yg ada hal-hal yg tadinya lepas dari pengamatan hal-hal yg dianggap sepele hal-hal yg dirasa bukan urusan kita tampilan foto-foto ini adalah perjalanan selama kami melintasi jogja....
  "Kenapa sih sekarang cari jodoh sulit banget?" kalimat pembuka dari seorang gadis early thirty di depan gorengan dalam posko rumpi antar wanita 55, 43, 42, 32, 27 dan 23. Perwakilan generasi yang cukup melalui era yang berbeda dalam kancah perpolitikan dunia pencarian jodoh. “Jodoh simpel, gak perlu nyari, dikasih koq sama Ortu. Minimal dapet sepupu’” jawab si 55. Pastinya lahir dari zaman Siti Nurbaya. “Jodoh dimudahkan, ada rejekinya untuk setiap orang” si 43 yang bunyi “Iyup banget Teh, gak usah dikejar-kejar, dateng kok.” Sambil mengunyah dan mencolek sambel kacang teman gorengan. Ketambunannya tidak menghalangi si 42 untuk mengunyah. “Tapi iya koq, jodoh itu sulit. Zaman sekarang mencari Pria yang layak untuk dinikahi itu berat, lebih berat dari Rindu” persepsi si 32 kurang lebih sama dengan si 27 pencetus omongan. “Oh jdi begitu, makanya Mba lama juga baru nemu jodohnya. Karena mencari yang layak saja susah. Kalo sekarang saja sulit, terus 5 tahun lagi, bisa...