Langsung ke konten utama

semua berawal dari rumah ...

catatan ini terinspirasi saat bagun pagi tadi, aku sedang menikmati wajah anak-anakku yg masih tertidur di kamar
dan beranjak ke kamar belakang, menikmati wajah lelah ibuku yg damai dan tenang
yah, rumahku berisi keluarga inti dan ibuku yang usianya 70tahun di 2012 ini

melihat ibuku itulah, aku membuat catatan ini, 'semua berawal dari rumah
Ibuku memang pekerja sejati yang tidak kenal diam, memiliki 5 orang putra/putri (dengan aku sebagai si bungsu)
istri kedua dari ayahku
notabene : catatan buruk tentang istri kedua khan selalu beredar di masyarakat

Alhamdulillah, kami berlima, semuanya mampu Mandiri dan memiliki pekerjaan tetap, tanpa 1 orang pun yang menyusahkan' beliau
itulah ibuku selalu menekankan rumah adalah gudang segalanya, ibuku selalu menjadikan dirinya idola kami anak-anaknya.. bahkan tidak ada satupun hal dari sifat-sifat kami berlima yang terlewat darinya
apapun yang terjadi pada kami, Ibu selalu tahu.. sampai seperti tidak bisa menyembunyikan "peniti jatuh dari pengawasan beliau
buatku Ibu adalah Ibu, teman, tempat curhat, satpam bahkan bank (yg terakhir jangan ditiru ya :))
Ibu selalu menekankan sikap demokratis di rumah, yg kadang tidak ada ayah disana. Kami selalu makan malam bersama untuk mendiskusikan masalah hari ini, semua tugas rumah tangga dibagi untuk dikerjakan (dan aku si kecil selalu bebas tugas) karena ibu bukan hanya di rumah untuk mengurus rumah tangga tapi juga "pedagang keliling menggunakan sepeda (aku paling suka karena aku selalu mendapat tugas untuk menemani ibu berdagang)
tugasku inilah yang membuatku paling kuat berhitung dan paling teliti diantara kami ber5 (paling sering menghitung sisa dagangan dan kembalian)

di rumah 
Ibu selalu menjadwalkan kami untuk sholat bersama, tanpa paksaan dan tanpa tekanan tapi dengan mencontohkan..
karena dalam pengetahuan beliau "teladan lebih baik daripada teriakan"
dan anak-anak pun yg awalnya sungkan menjadi terbiasa, selain itu ibu juga punya semboyan
'ala bisa karena biasa' dan 'jangan kalah sebelum berperang"
Ibu, adalah center rumah kami saat itu
karena kami seringkali tanpa Ayah
Pendidikan kami di luar sana selalu di mulai dari rumah, sekeras apapun cobaannya, karena rumah kami sangat nyaman, rumah kami sangat penuh perlindungan maka tidak pernah terasa berat

Rumah.. adalah unit terkecil sebuah pemerintahan..
pendidikan, manajemen, usaha, bisnis semuanya berawal dari sini
betul bahwa anak-anak akan bertumbuh  dan perlu lingkungan lainnya, namun pondasi awalnya ada disini
di Rumah
harus diingat berapa persen anak ada di sekolahnya? berapa persen anak bergaul dengan teman-temannya dibandingkan dengan bergaul, berteman dan berdiskusi dengan kita Orang Tua mereka
hati-hati... jika persentase dengan kita menjadi berkurang, menjadi lebih sedikit dan yang lebih parahnya anak menjadi lebih nyaman curhat dengan orang lain ketimbang curhat dengan ibunya/ayahnya
Aku bahkan ingat saat ibuku bercerita
kalo abang-abang selalu menceritakan apapun yang mereka lakukan diluar sana, bahkan saat mereka mencium pacar-pacar mereka.. (haduuhhh)

dan.. aku sangat ingin seperti ibuku
anak-anak selalu bercerita apapun padaku
mmm..
saat ini walau diusianya yg 70
ibu masih bepergian sendiri, bahkan berangkat Umroh 15hari lalu
masih mengendarai sepeda motornya ke Pasar setiap subuh
masih mengurus apapun sendiri...

yah... I Love U mom.. terima kasih untuk rumahmu yg hangat, aman dan tentram..
dari Rumahlah aku belajar banyak hal, dari dirimulah aku bercermin 
apapun itu, aku selalu bangga 





Komentar

Postingan populer dari blog ini

Catatan PERJALANAN ...  Infrastruktur dan Bencana benar benar lupa dilupakan melupakan atau sekedar menunda dan menyimpannya untuk sementara.. Mimpiku masih sama.. travelling, melihat keindahan dan kekuasaan penciptaan alam semesta oleh sang Khalik bahkan isi media sosial yg kuikuti adalah foto-foto aku jalan-jalan, hingga komen mereka yg masuk adalah "mba ini kuliah lagi atau jalan-jalan mulu siyyy??? 'hehehehehe... bolehkan sekali dayung 2-3 pulau terlampaui sebenernya tuu ya.. foto2 travelling itu, adalah bagian dari perkuliahan lapangan yg dibuat oleh dosen mata kuliah di kampus, dosen yg tidak mau kami datang ke jogja hanya duduk kuliah, kost dan makan tidur belajar prof yg satu ini, menugaskan kami utk berkeliling jogja, melihat mengamati dan akhirnya menulis infrastruktur yg ada hal-hal yg tadinya lepas dari pengamatan hal-hal yg dianggap sepele hal-hal yg dirasa bukan urusan kita tampilan foto-foto ini adalah perjalanan selama kami melintasi jogja....
  "Kenapa sih sekarang cari jodoh sulit banget?" kalimat pembuka dari seorang gadis early thirty di depan gorengan dalam posko rumpi antar wanita 55, 43, 42, 32, 27 dan 23. Perwakilan generasi yang cukup melalui era yang berbeda dalam kancah perpolitikan dunia pencarian jodoh. “Jodoh simpel, gak perlu nyari, dikasih koq sama Ortu. Minimal dapet sepupu’” jawab si 55. Pastinya lahir dari zaman Siti Nurbaya. “Jodoh dimudahkan, ada rejekinya untuk setiap orang” si 43 yang bunyi “Iyup banget Teh, gak usah dikejar-kejar, dateng kok.” Sambil mengunyah dan mencolek sambel kacang teman gorengan. Ketambunannya tidak menghalangi si 42 untuk mengunyah. “Tapi iya koq, jodoh itu sulit. Zaman sekarang mencari Pria yang layak untuk dinikahi itu berat, lebih berat dari Rindu” persepsi si 32 kurang lebih sama dengan si 27 pencetus omongan. “Oh jdi begitu, makanya Mba lama juga baru nemu jodohnya. Karena mencari yang layak saja susah. Kalo sekarang saja sulit, terus 5 tahun lagi, bisa...